Skip navigation


muslimah edit

Sungguh indah bila kuingat parasmu yang menawan. Mungkinkah suatu persahabatan akan berubah menjadi suatu jalinan ukhuwah[1] yang erat dan menyatukan kita. Namun, aku tidak bisa pungkiri bahwa wajah jelitamu yang bermahkotakan keindahan dapat membuatku tidak bisa melupakanmu.

Maka aku selalu bertasbih duhai bidadariku, Maha Suci Allah yang telah menunjukkan kekuasaan-Nya melalui parasmu yang rupawan. Tidak henti-hentinya aku selalu berusaha menghilangkan keyakinan ini dalam hatiku. Tapi sungguh, aku tak bisa!

Pertemuan pertama kita telah menggoreskan sebuah tinta memori yang abadi di dalam hatiku. Sungguh aku telah mengagumimu, setiap detik yang berlalu aku tak bisa menghilangkan sosokmu di dalam diriku. Dadaku terasa sesak, nafasku tersengal-sengal, jantung ini berdebar-debar, seluruh tubuhku gemetaran, suhu tubuhku membuatku menggigil, bahkan tulang-belulang serta sendi-sendiku terasa merinding karena dirimu.

Maha Suci Allah yang telah memberiku sepasang mata penuh berkah ini sehingga aku dapat melihat bidadariku yang anggun dan mempesona. Segala Puji Bagi Allah, Penguasa Semesta Alam dan isinya yang mengkaruniakan segumpal daging yang bernama hati ini, yang membuatku dapat merasakan kehadiranmu di sisiku, merasakan desir-desir yang membuat perasaan ini bergetar.

Bidadari surgaku, kepala ini tidak bisa menghilangkan memori tentang dirimu. Dalam dzikir[2]ku justru yang kuingat adalah dirimu, dalam tidurku aku selalu memimpikanmu, dalam tahajjud[3]ku aku berkhayal kau menjadi makmum[4]ku dan menyahut bacaan Al Fatihah-ku dengan mengamininya. Bahkan dalam munajatku kepada Allah, aku tidak tahu hanya wajahmu yang ada dalam ingatanku. Sewaktu membaca Alquran pun aku membayangkan membacanya bersamamu, secara bergantian, dan saling membenarkan bacaan yang lainnya.

Hati ini sudah tidak dapat merasakan apapun kecuali kekagumanku akan kesalihanmu. Aku bingung, bingung, bingung! Tak ada sepatah katapun yang dapat tersampaikan kepadamu tentang perasaanku. Yang dapat kutampilkan hanyalah kekakuanku yang sangat tidak bersahabat dan semakin membuatku gusar. Hanya memanjatkan syukur yang tak terperi yang kulakukan kepada Allah telah dipertemukan dewi seanggun dan secantik dirimu seiring terus berharap suatu saat nanti kau akan mengerti indahnya ketulusan hatiku.

Lidah ini kelu, membatu, dan membeku, serasa seluruh lidahku terbuat dari tulang sejati, kaku dan permanen. Nyali ini ciut, kerdil, dan kecil ketika berhadapan denganmu, merontokkan seluruh keberanianku. Rasanya tulang-tulangku seperti dilolosi dari persendian, degup jantungku bagai dipacu untuk berdetak sangat cepat. Kaki-kaki hanya mematung dan gemetaran, serta matapun tak berani memandang, hanya terpejam dan terlekat antara kelopak-kelopaknya yang bertemu di pertemuan garis horisontal tengah mata. Hidung ini sangat sukar untuk memasukkan udara ke dalam rongga alveolus di dalam paru-paru.

Waktu serasa terhenti untuk sementara, dan seketika juga aku terhenyak dari mimpi dan khayalan indahku. Tubuh ini mulai mematung bagai seorang Quraisy yang didatangi oleh malaikat Izrail, sangat ketakutan dan syarat akan was-was serta sangat gugup. Ditambah gelegar gemuruh dan halilintar di langit hitam yang kelam.

Betapa beruntungnya seorang pria yang menjadi pendamping dan penjaga hatimu kelak. Tahukah engkau mengapa? Karena dia telah mendapatkan surga sebelum surga. Dia mendapatkan istri yang salihah khas raihan[5], wewangian dari surga sebagai manifestasi surga di alam dunia yang jauh dan terhindarkan berbagai macam gemerlap kemewahan dan keterpurukan neraka Jahiliyah[6]. Dan ia sekaligus akan mendapatkan kenikmatan surga yang hakiki, yaitu surga akhirat dengan seizin Allah akan selalu bersamamu, kau temani hingga bersama menuju surga di dalam kerajaan surga kasih sayang di bawah naungan cinta yang sejati, cinta milik Allah ta’ala[7], bersama kecupan kasih sayang-Nya yang tak henti-hentinya mencurahkan nikmatnya Iman, Islam, dan Ihsan kepada hamba-hamba-Nya.

Ya Allah, ya Rabb-ku, izinkanlah hamba-Mu yang berlumur dosa ini menyandingnya menjadi pendamping hidupku, menemani dalam suka dan dukaku. Ridhoilah kami ya Malik-ku, selalu jagalah cinta kami ya Ilahi, bimbinglah kami menuju cinta-Mu yang abadi dan penuh barakah-Mu. Amin.

Tersenyumlah padaku duhai bidadariku, izinkanlah aku mengetuk pintu hatimu. Biarkanlah hati kita menyatu, tersapu oleh badai perbedaan, terhembus oleh angin sepoi yang memberikan kelembutan oleh sentuhannya. Lalu kita hadiahkan hati kita yang satu ini kepada Allah S.W.T. demi meraih ridho-Nya semata.

Cinta ini sudah merambah ke seluruk tubuhku, merasuk dalam aliran darahku, menggerogoti sistem ketahanan tubuh, hingga menyerang sumsum tulang belakangku sehingga aku tidak dapat merespon impuls dan merespeknya sebagai gerak refleks kecuali siraman kasih sayangmu yang tulus dan penuh berkah dari Allah S.W.T. kepadaku.

Subhanallah[8], kau telah membuat lidahku terasa kelu, gigi-gigiku hampir rontok karena saling bertemu dan bergetar sambil menggigil. Jantung ini serasa sangat liar, naik dengan cepat hingga menembus pangkal leher dan turun sangat cepat bagai meteor yang turun ke permukaan bumi karena gaya gravitasi bumi yang besar menembus hingga melewati letak lambung, menerobos diafragma dan kembali menelusup lembut ke tempat semula dengan periodik yang memiliki percepatan yang semakin bertambah.

Hingga hari ini, hampir dua tahun lamanya aku hanya dapat mengagumimu lewat untaian kata-kata indah yang tersirat melalui bibirmu ketika memberikan tausiyyah[9] yang menusuk-nusuk dan terekam dalam memori ciptaku. Aku sadar, bahwa aku memang bukan tokoh Fahri yang dikisahkan dalam novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy yang dilukiskan sebagai pribadi yang menawan, hafidh[10], rendah hati, bersahaja, dan perfeksionis. Namun aku tak dapat pungkiri, keanggunanmu tidak terlampau jauh dari karakter Aisha, gadis yang sangat mulia, titipan untuk menjadi penghuni Firdaus[11]. Kau laksana Ibunda Siti Khadijah yang bijaksana lagi mulia. Jika saja cintaku bagai cinta Rasulullah S.A.W. kepada istri tercintanya ’Aisyah kepadamu, tentu sampai akhir hayatku, kuakan selalu mengabdi dan mencintaimu serta tak akan menduakan cintamu yang selalu memberikan kehangatan di relung-relung jiwa yang kosong ini.

Kita akan melaksanakan kembali akad pernikahan kita beserta walimah ’ursy[12]nya di surga yang akan disaksikan oleh para malaikat, menyaksikan sebuah jalinan kasih yang berdasarkan kasih Ilahi dan perasaan saling memiliki satu sama lain, yang didayungkan oleh perahu cinta menuju pulau negeri surga setelah melalui lautan kedzalim[13]an Jahiliyah yang penuh liku dan duri bersama. Alangkah indah jalinan kasih seperti ini. Indah karena Allah tak akan henti-hentinya memberikan rizki dan barakah-Nya kepada kita bagaikan kisah kasih Nabi Adam as. dan Hawa yang selalu terjaga abadi di dalam surga. Mungkinkah ikatan cinta kita akan selalu seindah kisah cinta Nabi Yusuf as. dan Zulaikha yang paling menggetarkan hati setiap insan manusia yang mengerti makna cinta mereka?

Kerlingan matamu mengayun lembut seiring degup jantung dan aliran darahku yang semakin deras. Bulu-bulu matamu yang lentik menuai keserasian dan keselarasan di wajahmu dengan lekukan pipi dan gurat-gurat pemanis wajah yang rupawan. Lambaian jilbabmu yang tertiup angin terlihat sangat menawan menambah kewibawaanmu sebagai seorang wanita yang salihah. Laksana burung merak mengibas-ngibaskan ekor yang menjadi nilai estetikanya ke kanan dan ke kiri, sehingga dirimu terlihat begitu anggun laksana burung merak yang berkilauan.

Dirimu adalah representasi dari seluruh bidadari di jagad raya ini. Kepribadianmu sungguh bijaksana dan bermakna, tutur katamu seindah alunan melodi violin[14] yang digesek oleh tongkat penghasil suara merdu yang menari-nari di atas violin ramping hasil sentuhan pengrajin handal di senja yang jingga, menyentuh sekaligus membalut relung-relung hati, menanamkan benihnya di sana, serta mulai tumbuh bersemai subur seiring berjalannya waktu dan pergolakan zaman.

Sekarang aku sedang duduk di sebuah taman surga, oleh karena itu aku menuliskan puisi ini untuk dewiku

Di senja jingga yang sunyi

Di malam gelap yang mencekam

Hatiku mengharu biru mengingat dirimu

Hanya ada keindahanmu dalam pikiranku

Setiap dzikirku yang teringat adalah wajahmu

Dalam mimpiku yang menemani hanya jiwamu

Dalam munajatku kau menjadi tujuanku

Dan setiap detik yang berlalu adalah nafasmu

Biarkan sejarah menuliskan dengan tinta emasnya

Di dalam hatiku akan kekaguman yang abadi

Berharap kisah cinta kita tak terkikis oleh badai waktu

Sebuah kisah cinta yang paling menggetarkan hati

Cinta ini tidak akan terulang. Kau adalah tambatan hatiku yang terdalam, orang terakhir yang akan menyelimuti seluruh keyakinanku dan mengobarkan motivasi menuju cita-cita mulia yang aku dambakan selama ini, yaitu negeri surga.

Duhai gadis berjilbab putih yang melambai-lambai terhembus angin bersama meliuknya bulu-bulu matamu yang mengarah ke atas tertuju kepada hamparan langit luas dan burung-burung camar yang bergandengan sambil mengepakkan sayap-sayap kecilnya, mengedipkan matanya dengan manja, mengerutkan pipinya ke samping seiring tersenyum menyapa kepada kita, menggerakkan paruhnya seiring menegurkan sapa seakan mengucapkan salam takzim, ”Assalamu’alaikum ya akhi, assalamu’alaikum ya ukhti[15]. Tak lama kemudian kita menjawabnya dengan beriring senyum, ”Wa’alaikumussalam warahmatullah”. Sepasang burung itu sangat serasi dilihat dari perpaduan warna bulunya yang berkolaborasi. Mereka saling melengkapi satu sama lain, bagaikan Alquran dan haditsnya, tak terpisahkan. Samar-samar kudengar mereka berbisik mesra ketika sedang bercengkrama di atas pohon rindang nan teduh dan sejuk. Terlihat mereka menggoyang-goyangkan ekornya dan mencoba merayu pasangannya, seraya berbisik, ”Ana uhibbukum fillah”[16]. Subhanallah, baru kali ini kulihat betapa indahnya kisah percintaan dan jalinan kasih sayang dua makhluk Allah yang sama sekali tidak ternoda oleh hasrat dan nafsu duniawi. Nyatanya, sepasang burung camar pasti tidak serakah seperti sifat manusia, ingin menguasai, dan tidak pernah puas, selalu kufur[17] kepada-Nya. Sepasang burung camar hanya dapat mencintai pasangannya karena Allah semata, karena semasa hidupnya mereka hanya akan mengabdi kepada Allah. Melihat begitu indahnya dirimu yang tidak kalah anggun dengan burung-burung camar yang mengepakkan sayapnya kian jauh tinggi, aku teringat lagi oleh puisiku yang dulu. Maka aku lanjutkan khayalanku dan mulai membuat puisi lagi

Kudengar sepasang burung camar berkicauan

Bercengkerama di atas pohon daun menguning

Tersenyum seakan memuji kecantikanmu

Membuat pipimu memerah dan bibirmu merekah

Sayup-sayup kudengar suara hatiku memaksa

Untuk mengungkapkan seluruh isi hatiku

Seakan ingin membuncah dan meluap-luap

Menyibak misteri kejujuran hati di balik selimut tebal

Jika waktu itu telah tiba, setelah kudapatkan apa yang kucari, Insya Allah aku akan segera meminangmu, meminangmu dengan Alquran, seperti judul album Gradasi[18] ”Kupinang Engkau dengan Alquran”. Kubayangkan saat itu tiba, ketika kita dipertemukan oleh murabbi[19] dan murabbiyah[20] kita untuk dipersilakan memulai proses ta’aruf[21]. Kita memulai membuka pandangan, kita buka hijab[22] di antara kita untuk lebih mengenal satu sama lain untuk menuju proses selanjutnya, yaitu khitbah[23].

Sangat kunanti waktu itu tiba. Kita bertemu dengan abi[24] dan ummi[25] kita, di saat mereka mencoba untuk saling mengenal. Dapat kubayangkan pula betapa senangnya sukmaku ini ketika saat itu telah datang. Pencarianku selama bertahun-tahun untuk mencoba menjadi seorang da’i[26] yang hanif[27] telah menemukan pasangan hidup yang Insya Allah[28] serasi denganku, seorang akhwat[29] salihah yang notabene adalah seorang da’iyah[30].

Aku sangat yakin dengan janji Allah, bahwa orang-orang yang hanif akan mendapatkan seorang hanif pula, dan sebaliknya. Cinta yang kudamba-dambakan telah kudapatkan, cintaku hanya kepada-Nya semata. Cinta yang sejati, cinta yang tak akan mengkhianati siapapun yang mencintai-Nya, bahkan memberi berjuta kenikmatan. Cinta itu ialah cinta yang hakiki, cintaku kepada-Nya. Cinta yang takkan pernah mati. Sekalipun aku mencintai saudara-saudariku, atau siapapun manusia di muka bumi ini, pastilah aku mencintainya karena Allah, bukan karena harta, kekuasaan, atau apapun. Itulah doaku, semoga Allah mengabulkan permohonanku. Amin.

Yogyakarta, 7-8; 23 April;18 Juni 2007

(Terinspirasi dari novel-novel roman religi yang membangun jiwa saya. Gaya bahasanya pun kebanyakan mengidentifikasi dari karya-karya sastra terdahulu, bahkan alur ceritanya muncul dan terangan dari pikiran sewaktu membaca novel-novel tersebut. Gaya bahasanya yang santun, indah, tegas namun mengena membuat saya terkesima. Alur ceritanya pun sempat mengaduk-aduk jiwa dan membuat pikiran saya melayang-layang.)


[1] Persaudaraan.

[2] Mengingat Allah.

[3] Sholat yang dilaksanakan pada sepertiga malam terakhir dan rakaatnya berjumlah genap.

[4] Orang yang mengikuti gerakan sholat imam (pemimpin sholat).

[5] Wangi harum dari surga.

[6] Kebodohan.

[7] Allah semata.

[8] Maha Suci Allah.

[9] Nasihat kebaikan.

[10] Hapal Alquran.

[11] Tingkatan surga yang tertinggi.

[12] Resepsi pernikahan.

[13] Perbuatan tidak adil.

[14] Biola.

[15] Assalamu’alaikum wahai saudaraku, assalamu’alaikum wahai saudariku.

[16] Aku mencintaimu karena Allah.

[17] Tidak bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah

[18] Nama grup nasyid.

[19] Pengajar sekaligus orang kepercayaan (laki-laki).

[20] Pengajar sekaligus orang kepercayaan (perempuan).

[21] Proses perkenalan sebelum melaksanakan lamaran.

[22] Penutup diri.

[23] Lamaran.

[24] Ayah.

[25] Ibu.

[26] Orang yang berdakwah (laki-laki).

[27] Orang yang selalu berpegang teguh pada kebenaran dan tidak ada keraguan untuk meninggalkannya.

[28] Jika Allah menghendaki.

[29] Perempuan.

[30] Orang yang berdakwah (perempuan).

2 Comments

  1. baguuuuuuuuuuuuuuussss *_*

    • hahahahaha nggombal bnget ya? :P


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.